Saturday, August 03, 2013

the road not taken.

 TWO roads diverged in a yellow wood,   
And sorry I could not travel both   
And be one traveler, long I stood   
And looked down one as far as I could   
To where it bent in the undergrowth;           


Then took the other, as just as fair,   
And having perhaps the better claim,   
Because it was grassy and wanted wear;   
Though as for that the passing there   
Had worn them really about the same,            


And both that morning equally lay   
In leaves no step had trodden black.   
Oh, I kept the first for another day!   
Yet knowing how way leads on to way,   
I doubted if I should ever come back.            


I shall be telling this with a sigh   
Somewhere ages and ages hence:   
Two roads diverged in a wood, and I—   
I took the one less traveled by,   
And that has made all the difference.


  Yap, yang diatas ini adalah sebuah poem berjudul The Road Not Taken yang ditulis oleh Robert Frost pada tahun 1916 yang dipublikasikan pada sebuah buku koleksinya yang berjudul Mountain Interval.

tadi sore, si mamah tiba-tiba cerita soal poem ini. maklum, si mamah kan dulu mahasiswa sastra inggris, jadi tau banyak soal poem kayak gini. pertamanya sih si mamah cerita tentang anak temannya yang diterima UM UGM padahal udah bayar di univ lokal, dan sekiranya lagi bingung dan cekcok sama orangtuanya yang katanya sih lebih merelakan anaknya di univ lokal notabene udah dibayar juga kuliahnya disitu. tapi jelasnya si anak lebih kepengin di UGM, padahal udah susah-susah masuk lewat jalur terakhir.

yah, bukannya mirip sih, tapi keadaannya lumayan seperti keadaanku pas kemaren ketrima dua univ di waktu yang berbeda. banyak banget, beneran deh, orang yang pas tau aku ditrima universitas jaket kuning itu langsung pada beranjak 'udah, masuk di UI aja, di UI aja, masa iya sih UI ditinggalin?' sementara keadaan aku sendiri sih lebih ke dua-duanya boleh-boleh aja sih. sama-sama kece dan unggulan, kenapa enggak. bahkan ada juga orang yang seperti menyalahkan aku karna UI gak dimasukin ^^)'

tapi ya, akhirnya aku masuk UGM. bukan berarti UI kalah bagus dibandingkan UGM. hanya saja aku lebih mantep ke jogja daripada harus ke jakarta. the sense of familiarity, I guess. walau kadang liat jaket kuning si kakak yang tergeletak di meja kadang iri juga. tapi apa yang sudah dipilih harus disyukuri, tidak semua orang bisa dapat kesempatan untuk berjalan di jalan yang sesuai dengan apa yang dulu dibayangkan. tidak semua seberuntung ini, I guess. harusnya aku harus lebih merasa bersyukur, berterimakasih. semua yang aku butuhkan sudah ada padaku. tinggal bagaimana aku harus memperjuangkannya saja.

The Road Not Taken, seperti kata si mamah, jalan yang sudah diambil tidak boleh disesali. suatu saat nanti jalan yang telah dipilih ini akan menunjukkan suatu perbedaan. siapa tahu jalan yang dulu kamu sesali itu tidak selancar dugaan? no one knows what lies ahead.

...I took the one less traveled by, and that has made all the difference.

No comments:

Post a Comment