Showing posts with label tulisan. Show all posts
Showing posts with label tulisan. Show all posts

Thursday, March 31, 2011

tak sampai.

lagi-lagi puisi, wahaha
aku bikin ulang puisinya karna tema nya keindahan -.-
karna aku orangnya gloomy si ya apaan jadi saya ga pernah bisa bikin puisi ceria .__.
entah kapan ni perasaan jadi lebih baik =c='
sore ja, douzoooo~

Tuesday, March 29, 2011

kepada kawan kecil.

puisi buat bahasa indonesia yang gak jadi.
douzo~
agak ancur si, tapi yang tertarik, silahkan read more~
caraku ini lebih mirip lirik lagu dari pada puisi. -,-

Friday, January 21, 2011

[shortastories] Reach

[shortstories] Reach
author : Kinoshita Michi [me]
genre : Romance
rating : PG-13
type : Drabbles
warning : teribble english and hurried plot, and.. maybe typo? and anything wrong  -_-
A/N: nandarou? just feel like I want to write this~ I'm free for posting anything in my own blog, deshou? XD

Friday, October 15, 2010

100% Writing!

jansu~ sudah lama saia tidak mengisi blog ini, gokigen yo~ reader-tachi~ *kaya punya reader lu,*

Saturday, August 28, 2010

Natsu

Aku baru menyadarinya, ya, mungkin. Barusan? Ah, tidak, beberapa menit yang lalu? Sepertinya terlalu sebentar. Beberapa jam yang lalu? Hm, terlalu lama. Sepertinya aku tidak termangu selama itu. Ah, sudahlah, lagipula itu tidak terlalu penting.

Aku baru menyadari suatu hal. Yang membuatku berdiri terdiam di sebuah sudut stasiun yang penuh sesak dengan orang. Memandang lalu-lalang yang penuh kesibukan, entah apa yang masing-masing mereka pikirkan. Mungkin kau akan mengira aku hanyalah orang kurang kerjaan yang sibuk memelototi orang lain. Tapi nyatanya pikiranmu sama sekali tidak salah, aku adalah orang kurang kerjaan yang sibuk memenuhi pikiran dengan orang lain, dengan bayang-bayang orang lain yang tidak bisa kuhilangkan.

Ya, orang lain. Kau pernah bilang aku selalu memenuhi pikiranku sendiri dengan orang lain. Apa aku senaif itu untuk terus memikirkan orang lain? bahkan kau bilang aku harus menghentikannya. Kau membuat kepalaku pusing dengan apa yang kau katakan. Kau membuatku pusing dengan bayang-bayangmu. Dengan kata-katamu itu.

Aku tidak pernah memikirkan orang lain, aku bahkan terlalu egois untuk memikirkan diriku sendiri. Seharusnya kau merasa benar-benar beruntung untuk menempati sebagian otakku. Selama beberapa tahun ini, kupikir aku akan menjadi gila untuk terus berada di sampingmu. Melihatmu tertawa dan bersedih. Mendengarkanmu berbicara ini dan itu. Entah kenapa, aku juga sangat ingin mengetahui jawaban dari semua ini. Setelah setahun lewat, aku baru menyadarinya.

Aku merogoh saku ku, mengeluarkan sebuah player. Mengerjap, melihat keadaan sekeliling. Orang silih berganti, masuk dan keluar dari pintu kereta. Kau belum juga datang. Sudah ratusan orang yang kulihat semenjak pagi ini, dan kau belum juga muncul. Aku memandang langit-langit, mendesah. Aku memasang headset playerku erat ke telinga. Menekan tombol play dan memasang volume maksimal.

Lagu itu terputar dengan lembut. Bahkan volume sekeras apapun tidak akan mengubahnya. Lagu ini. Lagu yang dulu kau putar ribuan kali, lagu yang selalu kau senandungkan ketika kau berada disampingku. Kupikir aku akan segera menjadi gila apabila terus mendengarkan lagu ini. Ya, mungkin ketika kau melihatku sekarang, kau sudah bakal berpikir bahwa aku sudah menjadi gila.

Ya, aku sudah gila. Semenjak kau pergi, aku tidak pernah merasa hidupku kembali seperti layaknya semula.

Kau sudah terlalu lama berada disampingku. Kembali seperti semula adalah hal yang tidak mungkin. “seperti semula” bagiku, adalah ketika kau berada di sampingku. Diriku yang semula.
Aku selalu merasa bahwa kehilangan adalah suatu hal yang konyol. Kehilangan sesuatu yang penting, kupikir sama saja seperti saat dimana kita kehilangan suatu hal yang tidak penting. Tidak perlu berlebihan, panik dan bersedih. Kupikir kita hanya perlu terbiasa dengan kehilangan itu. Aku sudah tahu hal itu, benar-benar tahu karena aku sendiri yang berpikir begitu.

Kalau kau bilang aku orang yang naïf, mungkin sekarang aku takkan mengelak lagi.
Kau benar, aku terlalu naïf, bahkan untuk menjadi diriku sendiri. Ketika kupikir aku sudah mulai terbiasa dengan ketidakadaan ini, sudut mataku sudah menggenang. Aku berusaha, mungkin terlalu keras untuk menahannya agar tidak jatuh ke bawah.

Ya, sepertinya aku terlalu konyol dan naïf ketika aku menyadari aku kehilanganmu. Mungkin kau akan tertawa terbahak-bahak ketika mendengar hal ini, lalu berkata, “aku belum mati, bodoh!” sembari memukul kepalaku.

Aku menyandarkan diriku ke sebuah tiang, ah, mungkin bukan tiang. Sebuah dinding besar menjadi salah satu penyokong stasiun ini. merosot, terduduk. Aku sudah terlalu lelah menunggu. Entahlah, ketika ditanya menunggu apa, aku tak pernah bisa menjawab. Aku hanya termangu disini, entah sudah beberapa jam. Seperti Hachiko yang menunggu majikannya yang takkan kembali. Tanpa kepastian.

Apa kau akan kembali? Sudah setahun lebih aku terus berpikir begitu. Menatap pintu shinkansen yang datang dan pergi, menunggu dirimu yang tak pernah muncul. Konyol, aku tahu. Mengapa aku tidak menghubungi mu saja? Mengapa aku seperti layaknya pengecut begini? Bahkan akupun tidak pernah mengerti. Aku takut aku akan mendapat jawaban, “aku takkan pulang,” atau “aku masih sibuk mengurus sekolahku,”. Terlalu takut untuk sekedar mendengar suaramu yang terdengar jauh, bercerita akan hal yang tidak kumengerti.

Curang. Kau curang. Disana banyak orang yang dapat bersamamu, yang dapat berjalan disampingmu dan tertawa bersamamu. Kenapa aku disini, sendirian, menunggu mu, tidak dapat melihatmu? Pernahkah kau mengetahui bagaimana rasanya?

Uh, mungkin aku sudah terlalu banyak berbicara. Terlalu banyak berpikir. Lagu yang terus terputar di telingaku ini membuatku berhalusinasi. Aku membenamkan kepalaku diantara kedua lutut. Apa? apa itu tadi? siapa yang kulihat? Apakah bayang-bayangku sudah kembali menjadi semula?


Kau tahu, aku sudah begini selama setahun. Aku sudah begini sejak aku kehilanganmu. Selalu menunggu di stasiun hingga petang hari, hingga wajahku dihapal oleh para penjaga stasiun, aku tak peduli.

Selama setahun ini, kau hanyalah sebuah bayang-bayang. Kau bagaikan fantasi yang tak tersampaikan. Kau yang tidak ada disampingku hanya menjadi sebuah objek kefrustasian. Kau tahu? kau tahu apa yang baru kusadari tadi? apa kau mengetahuinya?

Aku menyadarinya, setahun ini bukanlah hidup. Kehidupan tanpamu sama sekali bukan hidup. Aku menyadari bahwa aku ingin terus berada di sampingmu. Ingin terus menertawakan hal konyol bersamamu. Kau tahu? musim demi musim terus berganti, namun hatiku selalu terhenti di musim panas tahun lalu, ketika kau mengucapkan selamat tinggal secara tiba-tiba. Yang membuat hatiku hancur menjadi bulir-bulir pasir.

Ketika aku berpikir aku hanya ingin mencari sebuah keberanian untuk melupakanmu, seperti hari ini, seperti detik ini ketika aku mulai berniat untuk berusaha,

Kau jahat. Benar-benar jahat. Dan aku bodoh, benar-benar bodoh.
Ya, seperti detik ini, ketika kau tiba-tiba muncul dihadapanku, ketika aku mendongak setelah mengeluarkan sedikit keberanian untuk melihat kenyataan.

Senyuman itu, senyuman yang membuat fantasiku membuncah, senyuman yang biasanya. Tidak ada yang berubah dari seorang Kau. Kau masih tetap saja sama. Masih dengan cara berpakaian yang sama. Seakan-akan kami bertemu untuk bermain seperti biasanya.
Licik. Kau licik.

“ Ou, Natsu, lama tidak berjumpa, kau sehat? “ aku kembali membenamkan kepalaku di antara kedua lutut untuk yang kedua kalinya. Menyembunyikan sebagian perasaanku yang meluap-luap, rasanya air yang menggenang di mataku sudah mencapai batas. Jangan, jangan melihatnya. Kumohon.

“ Hei, Natsu? Kau kenapa?” kau mendekat. Berjongkok di hadapanku. Suara yang paling ingin kudengar, wajah yang paling ingin kulihat. Sebuah fantasi yang sia-sia, tetapi sekarang muncul di hadapanku secara nyata. Ketika salah satu bagian dari otakku berbicara bahwa ini bukanlah fantasi, aku terserang wabah dilema dan air mata ini mengalir dengan sendirinya.

Aku kembali menyadari satu hal. Aku kembali menyadari bahwa aku begitu merindukan mu. Begitu ingin bertemu sampai aku tidak tahu harus bagaimana.
Aku mengangkat wajah. Tak peduli wajah menangisku akan kau lihat. Memandangmu yang terheran-heran lekat-lekat.

“ BODOH! “ dalam satu hentakan, aku memukul kepalamu sekeras yang aku pernah bisa sampai kau terjungkal dan dilihat oleh orang-orang. Kau meringis sembari mengusap kepalamu. Aku ingin berteriak padamu bahwa kau benar-benar bodoh. Seenaknya muncul di hadapan orang lain setelah sekian lama menghilang dari pandangan, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa, kau pikir aku ini apa?

Kau tersenyum. senyum yang dimataku sudah menyiratkan kemenangannya. Ia berhasil memenangkan hatiku yang sekarang tak karuan. Bodoh, bodoh. Aku menunduk, menangis keras seperti anak kecil yang kehilangan permen yang ia sukai. Mengapa kau tidak pernah menyadarinya?

Kau mengusap puncak kepalaku, pelan sembari tertawa.

“Aku pulang, Natsu,” bisiknya diantara keramaian. Aku tertegun. Menghentikan tangisku seketika, mengusap sudut mataku dan mendongak. Menatap wajahmu yang cerah seperti biasanya. Aku tahu bahwa aku tidak pernah akan kembali seperti semula.

“ okaeri. .” hampir tak terdengar aku membalas salamnya.

Aku yakin setiap orang tidak akan pernah kembali seperti semula. Tidak perlu, tidak perlu kembali seperti semula. Semua sudah berubah dan yang lain pasti akan berubah. Cukup satu yang kurasa tidak perlu berubah.

Aku ingin selalu berada disampingmu. Tersenyum dan tertawa bersamamu. Entah beberapa musim akan terus berganti, kupikir ini takkan berubah. Biarkan aku berada disampingmu saja sudah lebih dari cukup, dan kuharap akan terus begini.

Hei, dan manusia memang tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, bukan?


~owari~


28 Agustus 2010, 05:41
Inspirated by song : YUI – M
.
“itsumo issho ni itakatta,
tonari de warattetakatta,
kisetsu wa mata kawaru no ni
kokoro dake tachidomatta mama”

Tuesday, August 24, 2010

koushite itai yo .

tadi buka bersama, satu alumnus SMP. rasanya luaama banget dah ga ketemu. kangen banget sama gaya berisiknya bocah-bocah spa-al. kayak udah lama banget ga denger keramaian yang pernah familiar di telinga. hua, natsukashii . kangen nya banget!

semua cerita tentang SMA masing-masing. Nggak banyak yang berubah. tapi dibilang gak berubah juga engga. udah banyak juga yang "nge-gandeng" pacar yang sama-sama satu alumnus, gak kayak dulu lagi yang masih kucing-kucingan sama guru, sekarang udah mulai blak-blakan. ok, time changes people. but people can't change time.

kesejukan sekaligus kehangatan yang familiar. seakan - akan pulang ke tempat dimana seharusnya aku ada. gak seperti dunia yang aku masukin sekarang, dingin dan asing. oke, baru satu bulan lebih sedikit kita di SMA, wajar masih kerasa asing. sumpah, disana bener-bener kerasa hangat. familiar banget. seakan-akan seluruh tubuh bilang, "I'm supposed to be here,". ga ada tekanan yang menghambat aku buat tertawa lepas. tugas-tugas yang menumpuk, kesendirian yang enggak menyenangkan, mengurus ini-itu yang melelahkan.

SMA beda sama SMP. beda nya itu beda banget. kalo aku gak tenang sedikit, bisa-bisa aku dah frustasi. sekarang bahkan, ketenangan ini aku anggap sebagai sesuatu yang harus menjadi hal yang harus dikatakan "terbiasa". mungkin aku sudah mulai "terbiasa" dengan ke-frustasian ini.

pas SMP, mungkin seharusnya aku bisa lebih frustasi daripada ini. tapi dulu aku ga pernah frustasi kayak gini. padahal dulu tiap hari kerjaan nya makan soal, apa-apa soal, soal.

trus kenapa aku ga frustasi?

aku punya suatu, err, apa ya namanya? suatu kesimpulan untuk menjawab pertanyaan diatas. aku punya suatu dasar yang membuat aku gak stress, mungkin baru beberapa lama ini aku sadar, kalo aku ga stress karna,
karna ada teman-teman ku disampingku.

prinsip "because there's you," tuh bener-bener jalan. karna ada kamu, aku jadi kayak gini. karena ada kalian, aku jadi begini. bukankah manusia tuh emang gak pernah bisa hidup sendirian? aku yakin banget akan hal itu karna aku masih sering, atau bahkan, sadar ga sadar, bergantung dan digantungkan sama orang lain.

manusia gak bisa hidup tanpa manusia lainnya. kesimpulan sederhana ini bisa terkembang menjadi amat besar kalo kita hitung-hitung lagi. manusia gak bisa bener-bener hidup tanpa seseorang disampingnya. sadar ga sadar, orang lain juga ambil bagian dalam tujuan hidup kita, dalam goresan sketsa jalan hidup kita.

Teman. aku akui semenjak SMP, aku bakalan ga bisa hidup kayak sekarang tanpa teman. teman yang bener-bener ada. yang gak cuma turut tersenyum pas kita bahagia, tapi yang turut mikir keras pas kita sedih, yang bertanya kenapa pas kita murung, yang mendorong dari belakang pas kita maju kedepan.

teman. teman baik, teman sekelas, teman seperjuangan.
i cherished them all. they're too precious. terlalu berharga sampai takut kehilangan.
teman, teman adalah dimana kamu bisa merasa familiar dan aman ketika berada di sampingnya. sederhana. tapi menyenangkan.

Dan aku menemukannya, menemukannya.
aku bersyukur bisa masuk SMP Al Irsyad, sungguh.
ketemu suasana yang bisa kamu anggap familiar, nyaman berada disitu. this is what i'm supposed to be. merasa nge-pas.
mereka temen-temen yang baaaik banget. temen yang enggak asal "nge-buang" temen lainnya. yang kalo pensil jatuh aja langsung reflek ngambilin. yang punya responsibilitas tinggi (walau kadang, ehm), yang humoris, yang beda dari lainnya.

aku seneng banget waktu di SMA kita dipandang sebagai anak Al Irsyad. yang seragamnya ijo sendiri. yang sifatnya rada "beda" sendiri sama anak lainnya.

intinya, masuk SMP Al Irsyad, gak datar. gak mbosenin. selalu ada spice yang bikin hari-hari lebih ada warnanya. gak cuma tugas dan penjelasan membosankan yang tiap hari dicerna sama otak. ada goresan lain disitu.

aku bersyukur karna masuk SMP Al Irsyad,
aku bersyukur menjadi alumni SMP Al Irsyad di taun 2009-2010,
aku bersyukur aku dapet temen yang baik,
aku bersyukur dapet berbagai macam kenangan yang unforgettable,
aku bersyukur bisa mengenal dunia yang penuh warna,
aku bersyukur karna sekarang aku dapat berada disini. masih berada disamping orang-orang yang penting bagi aku.

terimakasih, ya Allah. aku menyadari selama ini, Engkau selalu memberikan aku jalan yang terbaik. teruslah permudahkan jalan kami, ya Rabb. kami memohon pertolongan dari-Mu.


Ne, kawan.

dulu kita bersama. duduk di kelas yang sama. pernah bersandar di tembok yang sama.
pernahkah kau menyadari sekarang, bahwa jalan kita sudah berbeda-beda?

ya, kita sudah berpencar. sadar tidak sadar, kita sudah berada di jalan berbeda. berbelok. lurus. berliku. kadang tertahan, kadang buntu. sadar ataupun tidak, jarak kita akan semakin menjauh, mengikuti jalan masing-masing. setiap orang mempunyai alur cerita sendiri.

tapi tujuan kita, sama seperti saat itu, saat kita mati-matian menghadapi UN.
ketika tidur kita tidak terlalu lelap, ketika hati kita tidak pernah merasa tenang.
tujuan kita tetap sama, jalan yang terbaik. kita tersesat, tertahan, terus mencari sesuatu bernama jalan terbaik. jalan terbaik bagi hidup kita masing-masing.

hidup kita berbeda, jalan kita berbeda.
tapi aku yakin satu hal, ketika kita sudah tidak bisa saling bertatap muka, saling bertukar senyuman dan cerita.
kita masih punya suatu ikatan kecil bernama teman. kita terikat oleh memori yang sama. memori atas kejadian yang sama. tidak ada janji atau kata-kata dalam realita bahwa ikatan itu terbentuk. setidaknya ingatlah sesuatu saat kita saling bertemu kembali. mencoba me-replay memori yang tak terulang lagi.
kita ini teman. sebelum semua ini mulai rontok satu persatu oleh waktu, mari kita sedikit mencari celah kecil dalam suatu ruang di diri kita, dan menyimpan semua memori rapat-rapat agar tidak hilang.

dan menurutku sendiri, ini adalah salah satu hal yang tidak pernah boleh dihilangkan. :)

sekarang kita semua udah beda jalan. tapi tetep inget bahwa ada teman yang selalu ada di samping kita, yang tersenyum ketika kita bahagia, yang mengulurkan tangan saat kita terjatuh, yang menepuk bahu kita ketika kita butuh dorongan, yang duduk disamping kita tanpa kata, menjelaskan bahwa saat itu kamu tidak sendirian. yang menyediakan telinga nya untuk mendengarkan, yang menyediakan obat ketika terluka, yang menyediakan semangat ketika kita merasa putus asa, yang menyediakan kesempatan bagi kita untuk terus berada disampingnya, tidak menghiraukan seberapa jauh jarak dan perbedaan diantara kita.

teman itu penting, teman itu, berharga.

terimakasih, kawan. :)



Kinoshita Michi, 24 Agustus 2010. 21:29


"I wonder why I am here and why I’m with you?
I wonder why I am here and why I’m laughing with you?
I want to always, always be here forever like this,"

Sunday, August 15, 2010

if you're not here.

if you're not here.
am I still believing I can be like what I am now?
if you're not here.
am I still bringing many memories like what I am now?

why am I belonging to this place?
why am I laughing with you?
I've been thinking for awhile,
If I can stop the time passed by, I wanna be forever like this.

As the cloud slowly passed by,
On that corridor, it was after-school.
mumbling an "I wanna go home," things.
you stand by me, smiling.
humming a song with no-voice.

that peacefully silent,
that humming melody,
it's simple, you know it true
but you know? it's lasting forever

why am I with you?
why am I living in this world?
it's fine, it's fine, until now
i've always searching the answer

we won't know what will happen in the next seconds,
will it be teary? will it be sad? will it be happy?
struggling, we don't always know what we can do next,
but let's believing, with the future that no one knows

we can't hurt alone, we can't be happy alone either
on the moonlight night, I'm wishing eagerly
that our big dreams will become true, and our memories won't be disappear

Ne,
if you're not here,
I told you that I can't laugh alone, right?
if you're not here,
I told you that I can't cry without reason, right?

it's just being like true,
Ne, I'm here, why I'm here now?
it's just because,

because there is you.


Kinoshita Michi, from a thousands inspirations.
15th August 2010, 20:54