Friday, July 29, 2011
Fict : Regret.
[Author] kimichichan
[Fandom] Hey! Say! JUMP.
[Rating] G (Friendship, Comfort?)
[Summary] many thing appeared after a calm. for example : storm.
[Notes] my first two-parted One-shot! and I'm still scared to publish it properly because the plot is lame and so many grammar errors~ mind to read it for me? *puppyeyes* ah, bytheway, this is from Yuto-POV.
Thursday, May 12, 2011
Tak Pasti Cerah
Friday, January 21, 2011
[shortastories] Reach
author : Kinoshita Michi [me]
genre : Romance
rating : PG-13
type : Drabbles
warning : teribble english and hurried plot, and.. maybe typo? and anything wrong -_-
A/N: nandarou? just feel like I want to write this~ I'm free for posting anything in my own blog, deshou? XD
Tuesday, November 09, 2010
masa lalu.
aku ga pernah cerita masa lalu kan? hehe
kali ini aku mau menyinggung satu masalah dari kepingan masa lalu masa lalu yang sebenernya ga pengin aku buka lagi ..
ya ga pengin baca, plis jangan baca ok?
Saturday, August 28, 2010
Natsu
Aku baru menyadari suatu hal. Yang membuatku berdiri terdiam di sebuah sudut stasiun yang penuh sesak dengan orang. Memandang lalu-lalang yang penuh kesibukan, entah apa yang masing-masing mereka pikirkan. Mungkin kau akan mengira aku hanyalah orang kurang kerjaan yang sibuk memelototi orang lain. Tapi nyatanya pikiranmu sama sekali tidak salah, aku adalah orang kurang kerjaan yang sibuk memenuhi pikiran dengan orang lain, dengan bayang-bayang orang lain yang tidak bisa kuhilangkan.
Ya, orang lain. Kau pernah bilang aku selalu memenuhi pikiranku sendiri dengan orang lain. Apa aku senaif itu untuk terus memikirkan orang lain? bahkan kau bilang aku harus menghentikannya. Kau membuat kepalaku pusing dengan apa yang kau katakan. Kau membuatku pusing dengan bayang-bayangmu. Dengan kata-katamu itu.
Aku tidak pernah memikirkan orang lain, aku bahkan terlalu egois untuk memikirkan diriku sendiri. Seharusnya kau merasa benar-benar beruntung untuk menempati sebagian otakku. Selama beberapa tahun ini, kupikir aku akan menjadi gila untuk terus berada di sampingmu. Melihatmu tertawa dan bersedih. Mendengarkanmu berbicara ini dan itu. Entah kenapa, aku juga sangat ingin mengetahui jawaban dari semua ini. Setelah setahun lewat, aku baru menyadarinya.
Aku merogoh saku ku, mengeluarkan sebuah player. Mengerjap, melihat keadaan sekeliling. Orang silih berganti, masuk dan keluar dari pintu kereta. Kau belum juga datang. Sudah ratusan orang yang kulihat semenjak pagi ini, dan kau belum juga muncul. Aku memandang langit-langit, mendesah. Aku memasang headset playerku erat ke telinga. Menekan tombol play dan memasang volume maksimal.
Lagu itu terputar dengan lembut. Bahkan volume sekeras apapun tidak akan mengubahnya. Lagu ini. Lagu yang dulu kau putar ribuan kali, lagu yang selalu kau senandungkan ketika kau berada disampingku. Kupikir aku akan segera menjadi gila apabila terus mendengarkan lagu ini. Ya, mungkin ketika kau melihatku sekarang, kau sudah bakal berpikir bahwa aku sudah menjadi gila.
Ya, aku sudah gila. Semenjak kau pergi, aku tidak pernah merasa hidupku kembali seperti layaknya semula.
Kau sudah terlalu lama berada disampingku. Kembali seperti semula adalah hal yang tidak mungkin. “seperti semula” bagiku, adalah ketika kau berada di sampingku. Diriku yang semula.
Aku selalu merasa bahwa kehilangan adalah suatu hal yang konyol. Kehilangan sesuatu yang penting, kupikir sama saja seperti saat dimana kita kehilangan suatu hal yang tidak penting. Tidak perlu berlebihan, panik dan bersedih. Kupikir kita hanya perlu terbiasa dengan kehilangan itu. Aku sudah tahu hal itu, benar-benar tahu karena aku sendiri yang berpikir begitu.
Kalau kau bilang aku orang yang naïf, mungkin sekarang aku takkan mengelak lagi.
Kau benar, aku terlalu naïf, bahkan untuk menjadi diriku sendiri. Ketika kupikir aku sudah mulai terbiasa dengan ketidakadaan ini, sudut mataku sudah menggenang. Aku berusaha, mungkin terlalu keras untuk menahannya agar tidak jatuh ke bawah.
Ya, sepertinya aku terlalu konyol dan naïf ketika aku menyadari aku kehilanganmu. Mungkin kau akan tertawa terbahak-bahak ketika mendengar hal ini, lalu berkata, “aku belum mati, bodoh!” sembari memukul kepalaku.
Aku menyandarkan diriku ke sebuah tiang, ah, mungkin bukan tiang. Sebuah dinding besar menjadi salah satu penyokong stasiun ini. merosot, terduduk. Aku sudah terlalu lelah menunggu. Entahlah, ketika ditanya menunggu apa, aku tak pernah bisa menjawab. Aku hanya termangu disini, entah sudah beberapa jam. Seperti Hachiko yang menunggu majikannya yang takkan kembali. Tanpa kepastian.
Apa kau akan kembali? Sudah setahun lebih aku terus berpikir begitu. Menatap pintu shinkansen yang datang dan pergi, menunggu dirimu yang tak pernah muncul. Konyol, aku tahu. Mengapa aku tidak menghubungi mu saja? Mengapa aku seperti layaknya pengecut begini? Bahkan akupun tidak pernah mengerti. Aku takut aku akan mendapat jawaban, “aku takkan pulang,” atau “aku masih sibuk mengurus sekolahku,”. Terlalu takut untuk sekedar mendengar suaramu yang terdengar jauh, bercerita akan hal yang tidak kumengerti.
Curang. Kau curang. Disana banyak orang yang dapat bersamamu, yang dapat berjalan disampingmu dan tertawa bersamamu. Kenapa aku disini, sendirian, menunggu mu, tidak dapat melihatmu? Pernahkah kau mengetahui bagaimana rasanya?
Uh, mungkin aku sudah terlalu banyak berbicara. Terlalu banyak berpikir. Lagu yang terus terputar di telingaku ini membuatku berhalusinasi. Aku membenamkan kepalaku diantara kedua lutut. Apa? apa itu tadi? siapa yang kulihat? Apakah bayang-bayangku sudah kembali menjadi semula?
Kau tahu, aku sudah begini selama setahun. Aku sudah begini sejak aku kehilanganmu. Selalu menunggu di stasiun hingga petang hari, hingga wajahku dihapal oleh para penjaga stasiun, aku tak peduli.
Selama setahun ini, kau hanyalah sebuah bayang-bayang. Kau bagaikan fantasi yang tak tersampaikan. Kau yang tidak ada disampingku hanya menjadi sebuah objek kefrustasian. Kau tahu? kau tahu apa yang baru kusadari tadi? apa kau mengetahuinya?
Aku menyadarinya, setahun ini bukanlah hidup. Kehidupan tanpamu sama sekali bukan hidup. Aku menyadari bahwa aku ingin terus berada di sampingmu. Ingin terus menertawakan hal konyol bersamamu. Kau tahu? musim demi musim terus berganti, namun hatiku selalu terhenti di musim panas tahun lalu, ketika kau mengucapkan selamat tinggal secara tiba-tiba. Yang membuat hatiku hancur menjadi bulir-bulir pasir.
Ketika aku berpikir aku hanya ingin mencari sebuah keberanian untuk melupakanmu, seperti hari ini, seperti detik ini ketika aku mulai berniat untuk berusaha,
Kau jahat. Benar-benar jahat. Dan aku bodoh, benar-benar bodoh.
Ya, seperti detik ini, ketika kau tiba-tiba muncul dihadapanku, ketika aku mendongak setelah mengeluarkan sedikit keberanian untuk melihat kenyataan.
Senyuman itu, senyuman yang membuat fantasiku membuncah, senyuman yang biasanya. Tidak ada yang berubah dari seorang Kau. Kau masih tetap saja sama. Masih dengan cara berpakaian yang sama. Seakan-akan kami bertemu untuk bermain seperti biasanya.
Licik. Kau licik.
“ Ou, Natsu, lama tidak berjumpa, kau sehat? “ aku kembali membenamkan kepalaku di antara kedua lutut untuk yang kedua kalinya. Menyembunyikan sebagian perasaanku yang meluap-luap, rasanya air yang menggenang di mataku sudah mencapai batas. Jangan, jangan melihatnya. Kumohon.
“ Hei, Natsu? Kau kenapa?” kau mendekat. Berjongkok di hadapanku. Suara yang paling ingin kudengar, wajah yang paling ingin kulihat. Sebuah fantasi yang sia-sia, tetapi sekarang muncul di hadapanku secara nyata. Ketika salah satu bagian dari otakku berbicara bahwa ini bukanlah fantasi, aku terserang wabah dilema dan air mata ini mengalir dengan sendirinya.
Aku kembali menyadari satu hal. Aku kembali menyadari bahwa aku begitu merindukan mu. Begitu ingin bertemu sampai aku tidak tahu harus bagaimana.
Aku mengangkat wajah. Tak peduli wajah menangisku akan kau lihat. Memandangmu yang terheran-heran lekat-lekat.
“ BODOH! “ dalam satu hentakan, aku memukul kepalamu sekeras yang aku pernah bisa sampai kau terjungkal dan dilihat oleh orang-orang. Kau meringis sembari mengusap kepalamu. Aku ingin berteriak padamu bahwa kau benar-benar bodoh. Seenaknya muncul di hadapan orang lain setelah sekian lama menghilang dari pandangan, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa, kau pikir aku ini apa?
Kau tersenyum. senyum yang dimataku sudah menyiratkan kemenangannya. Ia berhasil memenangkan hatiku yang sekarang tak karuan. Bodoh, bodoh. Aku menunduk, menangis keras seperti anak kecil yang kehilangan permen yang ia sukai. Mengapa kau tidak pernah menyadarinya?
Kau mengusap puncak kepalaku, pelan sembari tertawa.
“Aku pulang, Natsu,” bisiknya diantara keramaian. Aku tertegun. Menghentikan tangisku seketika, mengusap sudut mataku dan mendongak. Menatap wajahmu yang cerah seperti biasanya. Aku tahu bahwa aku tidak pernah akan kembali seperti semula.
“ okaeri. .” hampir tak terdengar aku membalas salamnya.
Aku yakin setiap orang tidak akan pernah kembali seperti semula. Tidak perlu, tidak perlu kembali seperti semula. Semua sudah berubah dan yang lain pasti akan berubah. Cukup satu yang kurasa tidak perlu berubah.
Aku ingin selalu berada disampingmu. Tersenyum dan tertawa bersamamu. Entah beberapa musim akan terus berganti, kupikir ini takkan berubah. Biarkan aku berada disampingmu saja sudah lebih dari cukup, dan kuharap akan terus begini.
Hei, dan manusia memang tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, bukan?
28 Agustus 2010, 05:41
Inspirated by song : YUI – M
.
“itsumo issho ni itakatta,
tonari de warattetakatta,
kisetsu wa mata kawaru no ni
kokoro dake tachidomatta mama”
Monday, April 12, 2010
Dandelion Sky ~CHAP 1~ Prologue.
Aku sudah memutuskan untuk pergi. Aku sudah tidak peduli, keputusanku sudah tetap.
Tidak, tidak ada lagi yang menghalangiku.
Kurasa begitu.
Aku akan menuju ke sebuah tempat, yang tidak kukenal.
Aku akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar.
Kupikir begitu.
Aku tidak perlu siapapun, sudah cukup. Aku menyadari bahwa aku ini egois.
Aku tidak membutuhkan siapapun lagi, aku bisa berjalan sendiri.
Kukira aku akan berkata begitu.
Aku, akan terus berjuang, di sebuah jalan yang kuanggap bercahaya.
Tak peduli, aku akan terus terbawa angin masa depan yang berhembus.
Aku percaya, aku benar-benar percaya.
Tapi apakah aku benar-benar bisa hidup, tanpamu?
Tanpamu berada disisiku?
Apakah aku yakin benar begitu?
Aku akan terus berlari. Tak pernah berhenti.
Yang selalu berusaha menghibur diri untuk tetap sanggup untuk pulang,
Walau nyatanya tak sanggup.
Mencoba untuk menjadi kuat, walaupun nyatanya begitu rapuh.
Aku tidak tahu kemana kaki ku akan melangkah.
Aku hanya ingin seperti dandelion.
Yang menuruti apa kata angin, tanpa bertanya,
Sampai mana dia akan berlabuh.
-(===_===_)-
dandelion sky, begin.
12 April 2010.
tanoshikatta.
okay, jadi kemaren sabtu, michi-eicchan-ucchan main ke eicchan no uchi. niatnya sih mau nengokin ade'nya eicchan yang baru lahir, musu-chan. dia musuko alias cowok, first sight nya michi tentang ade'nya eicchan ini adalah, mungil banget!
biasanya michi liat bayi ga semungil itu, mirip banget si eicchan yang notabene juga mungil ato kuntet? *dibuang ke kali* pokoknya kayak gitu deh. tapi karena sepertinya sense kesukaan saia terhadap anak kecil sudah mulai berkurang, bahkan mungkin nyaris tidak ada, jadi saia ga begitu excited.
trus bantu-bantu di sana karena musu-chan mau di aqiqah-in. trus habis itu kita maen di depan rumahnya eicchan yang notabene masih alami. enak banget sumpah eicchan tu, dia bisa tiap hari liat bintang dengan jelas kalo depan rumahnya hutan kayak gitu! (bukan hutan sih, lebih tepatnya kumpulan pohon jangkung -lupa namanya-)
tiba-tiba si ucchan stress nya ( digetak ) kambuh. dia jongkok, kayaknya lagi ngeliat/nyari sesuatu. waktu michi tengok, ternyata dia lagi asik niup-niup setangkai bunga berbulu yang nyebar-nyebar, ofcourse, michi langsung excited, itu kan..

wew, saia udah jarang liat ni bunga, setidaknya saia jarang/udah ga pernah liat dandelion lagi beranak(plaaak!) maksudnya berkembangbiak jadi putih-putih gitu. Sama ucchan ditiup-tiup, dia keliatan excited banget.
saia yang dari tadi cuma duduk liat-liat pemandangan, cari inspirasi, ngeliatin ucchan laaaaamaaaa banget, untungnya dia ga sadar, hahaha, tiba-tiba ada lampu dikepala saia, entah darimana, beli dimana, hehe.
Dandelion! sebuah bunga yang inspiratif.
ucchan bilang di rumahnya ga ada dandelion, saia juga jarang liat tapi saia yakin di sawah deket rumah ada, di kebun belakang deket rumah yang banyak semaknya juga pasti ada, cuma saia aja yang ga pernah liat, ato dandelion nya yang belum jadi putih-putih gitu.
ucchan pengin banget ada taneman itu di rumahnya, dan waktu malem malem saia search di kamar, Dandelion itu tanaman liar! eicchan juga bilang tu dandelion tumbuh sendiri. dandelion tuh tanaman liar. saia pikir tanaman liar itu pasti kuat, karena tanpa dirawat, tanpa diperhatikan, tiba-tiba mereka tumbuh begitu saja, sudah pasti mereka kuat bukan?
tapi lain dengan dandelion, walaupun batangnya tegak berdiri, mahkotanya yang sudah berkembang jadi putih-putih itu terlihat, terlihat rapuh. sekali tertiup saja akan langsung hancur semuanya.
michi perhatikan lagi, michi browsing lagi, michi jadi teringat, di beberapa komik yang pernah
michi baca, dandelion, apabila sebelum kita meniup anak-anak dandelion yang berwarna putih itu kita meminta sebuah keinginan, maka keinginan itu akan tersampaikan.
apakah betul? kayaknya itu emang pernyataan yang dramatis ya.
nah, kembali ke cerita, habis ntu kami habiskan dengan acara ngobrol-ngobrol gaje dan sedikit ngegosip ga jelas.
pasti kalo bareng sama mereka, saia jadi sadar banyak hal, i know it long ago.
saia jadi agak takut.
waktu SMP saia punya teman yang irrepreciable, karakter orang yang hanya bisa ditemukan satu dari 10ribu orang, i swear.
besok SMA, apakah aku akan seberuntung ini lagi?
i don't know. we met by destiny, and we separated apart also by destiny.
just go on, i know it. tapi kurasa, tidak akan semudah itu. bahkan aku tidak bisa membayangkannya.
just wish me luck, once again.
zutto issho ni iru, zutto soba ni iru.
i love them, my taisetsu na. hehe. piisuu~ (mengakhiri kata-kata dramatis dengan piisuu~ atau hehe adalah sesuatu yang tidak patut ditiru.)
chikai atta yume wo tadoru you ni, atashi mo ganbatte iru yo, my friend.
mungkin aku bukan yang terbaik, kalau dipikir sekali lagi aku juga tidak tahu mengapa kalian mau berteman denganku, karena kurasa kalian adalah salah satu diantara yang terbaik, dan aku akan mencoba menjadi seperti kalian, walaupun aku tahu itu nyaris tidak mungkin.
tapi tidak mungkin adalah suatu kata yang tidak masuk akal bukan? ;]
michi, itsumo koko ni.
12 April 2010.
current music : Yui - My Friend
current mood : maleeeeess. ga moood. biasa lah. tapi excited juga.
current anime : Bleach?
current manga : -
current plans : Bikin cerita baru trus di publish
current info : seminggu lagi UASSS~
" nande bokutachi wa deaeru no? "
" unmei desu."
michi, 2010.

